Banner 468 x 60px

 

Wednesday, May 23, 2012

Makalah Filsafat Pendidikan Islam

0 comments


BAB I
PENDAHULUAN
   Latar Belakang Masalah
Pendidikan merupakan sebagian dari fenomena interaksi kehidupan sosial manusia. Menurut K.J. Veeger pada hekekatnya kehidupan sosial itu terdiri dari jumlah aksi dan reaksi yang tak terbilang banyaknya, baik antara perorangan maupun antara kelompok. Pihak-pihak yang terlibat menyesuaikan diri dengan salah satu pola perilaku yang kolektif. Kesatuan yang berasal dari penyesuaian diri itu disebut kelompok atau masyarakat. Oleh karenanya, pendidikan merupakan bagian dari interaksi sosial yang telah ada  bersamaan dengan kehidupan manusia.
            Secara normatif, data tektual dalam al-Qur’an menunjukkan adanya interaksi pendidikan yang tidak saja terjadi secara sosiologis di alam  dunia, tetapi telah bermula semenjak kehidupan Adam as di surga. Kehidupan alam surgawi ini memberikan gambaran awal, betapa interaksi pendidikan terjadi antara Allah swt, malaikat, Adam as, dan Iblis. Allah sebagai sumber pengetahuan pendidikan mengajarkan proses tranformasi pengetahuan kepada Adam dengan melibatkan potensi makhluk malaikat dan Iblis. Dalam hal ini, Adam as representasi dari makhluk manusia, kelak akan menjadi khalifah di bumi  yang mana malaikat meragukan akan kemampuan.               

BAB II
PEMBAHASAN
Pengertian Pendidikan Islam
            Pendidikan Islam yaitu bimbingan jasmani dan rohani menuju terbentuk kepribadian utama menurut ukuran-ukuran Islam. Dengan pengertian lain Pendidikan Islam merupakan suatu bentuk kepribadian utama yakni kepribadian muslim. kepribadian yang memiliki nilai-nilai agama Islam memilih dan memutuskan serta berbuat berdasarkan nilai-nilai Islam dan bertanggung jawab sesuai dengan nilai-nilai Islam. Pendidikan Islam merupakan pendidikan yang bertujuan membentuk individu menjadi makhluk yang bercorak diri berderajat tinggi menurut ukuran Allah dan isi pendidikan adl mewujudkan tujuan ajaran Allah (Djamaluddin 1999: 9).
Menurut Hasan Langgulung yang dikutip oleh Djamaluddin (1999) Pendidikan Islam ialah pendidikan yang memiliki empat macam fungsi yaitu :
  • Menyiapkan generasi muda untuk memegang peranan-peranan tertentu dalam masyarakat pada masa yang akan datang. Peranan ini berkaitan erat dengan kelanjutan hidup masyarakat sendiri.
  • Memindahkan ilmu pengetahuan yang bersangkutan dengan peranan-peranan tersebut dari generasi tua kepada generasi muda.
  • Memindahkan nilai-nilai yang bertujuan untuk memilihara keutuhan dan kesatuan masyarakat yg menjadi syarat mutlak bagi kelanjutan hidup suatu masyarakat dan peradaban.
  • Mendidik anak agar beramal di dunia ini utk memetik hasil di akhirat.
            An-Naquib Al-Atas yang dikutip oleh Ali mengatakan pendidikan Islam ialah usaha yang dialakukan pendidik terhadap anak didik untuk pengenalan dan pengakuan tempat-tempat yang benar dari segala sesuatu di dalam tatanan penciptaan sehingga membimbing kearah pengenalan dan pengakuan akan tempat Tuhan yang tepat di dalam tatanan wujud dan keberadaan (1999: 10        ).
Adapun Mukhtar Bukhari yang dikutip oleh Halim Soebahar mengatakan pendidikan Ialam adalah seganap kegiatan yang dilakukan seseorang atau suatu lembaga untuk menanamkan nilai-nilai Islam dalam diri sejumlah siswa dan keseluruhan lembaga-lembaga pendidikan yang mendasarkan program pendidikan atau pandangan dan nilai-nilai Islam (2002: 12).
Pendidikan Islam adalah jenis pendidikan yang pendirian dan penyelenggaraan didorong oleh hasrat dan semangat cita-cita unutk mengejewantahkan nilai-nilai Islam baik yang tercermin dalam nama lembaga maupun dalam kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan (Soebahar 2002: 13). Kendati dalam peta pemikiran Islam upaya menghubungkan Islam dengan pendidikan masih diwarnai banyak perdebatan namun yang pasti relasi Islam dengan pendidikan bagaikan dua sisi mata uang mereka sejak awal mempunyai hubungan filosofis yang sangat mendasar baik secara ontologis epistimologis maupun aksiologis.                    
            Yang dimaksud dgn pendidikan Islam disini adalah : pertama ia merupakan suatu upaya atau proses yang dilakukan secara sadar dan terencana membantu peserta didik melalui pembinaan asuhan bimbingan dan pengembangan potensi mereka secara optimal agar nanti dapat memahami menghayati dan mengamalkan ajaran islam sebagai keyakinan dan pandangan hidup demi keselamatan di dunia dan akherat. Kedua merupakan usaha yang sistimatis pragmatis dan metodologis dalam membimbing anak didik atau tiap individu dalam memahami menghayati dan mengamalkan ajaran islam secara utuh demi terbentuk kepribadian yang utama menurut ukuran islam. Dan ketiga merupakan segala upaya pembinaan dan pengembangan potensi anak didik untuk diarahkan mengikuti jalan yang islami demi memperoleh keutamaan dan kebahagiaan hidup di dunia dan di akherat.
            Menurut Fadlil Al-Jamali yg dikutip oleh Muzayyin Arifin pendidikan Islam adalah proses yang mengarahkan manusia kepada kehidupan yang baik dan mengangkat derajat kemanusiaan sesuai dengan kemampuan dasar (fitroh) dan kemampuan ajar (2003: 18).
Maka dengan demikian pendidikan Islam dari beberapa pengertian di atas penulis menyimpulkan bahwa pendidikan Islam sebagai usaha membina dan mengembangkan pribadi manusia baik dari aspek rohaniah jasmaniah dan juga harus berlangsung secara hirarkis. oleh karen itu pendidikan Islam merupakan suatu proses kematangan perkembangan atau pertumbuhan baru dapat tercapai bilamana berlangsung melalui proses demi proses kearah tujuan transformatif
dan inovatif.     




Pendidikan islam sebagaimana rumusan diatas menurut Abd Halim Subahar ( 1992 : 64) memiliki beberapa prinsip yang membedakan dengan pendidikan lain Prinsip Pendidikan islam antara lain :
  • Prinsip tauhid
  • Prinsip Integrasi
  • Prinsip Keseimbangan
  • Prinsip persamaan
  • Prinsip pendidikan seumur hidup dan
  • Prinsip keutamaan.
Sedangkan tujuan pendidikan islam dapat dirumuskan sebagai berikut :
  • Untuk membentuk akhlakul karimah.
  • Membantu peserta didik dalam mengembangkan kognisi afeksi dan psikomotori guna memahami menghayati dan mengamalkan ajaran islam sebagai pedoman hidup sekaligus sebagai kontrol terhadap pola fikir pola laku dan sikap mental.
  • Membantu peserta didik mencapai kesejahteraan lahir batin dangan membentuk mereka menjadi manusia beriman bertaqwa berakhlak mulia memiliki pengetahuan dan keterampilan berkepribadian integratif mandiri dan menyadari sepenuh peranan dan tanggung jawab diri di muka bumi ini sebagai abdulloh dan kholifatulloh.
·         Terminologi interaksi pada mulanya diterapkan oleh ilmuan Barat dalam wilayah ilmu sosial. Interaksi digunakan untuk melihat prilaku individu dan kelompok dalam realitas sosial. Menurut Robert H. Lauer bahwa manusia membuat sejarah dan tidak pernah bertindak dalam kevakuman, di mana sejarah selalu terjadi dalam suasana interaksi dengan orang lain. Manusia adalah makhluk sosial yang keberadaannya diciptakan dalam acuan interaksi sosial. Karena itu, interaksi sosial dilihat sebagai mekanisme yang menggerakkan perubahan, terutama menggerakkan kompetisi dan konflik.
·         Berdasarkan perspektif interaksi tersebut, fenomena interaksi antara Allah, malaikat, Adam dan iblis, serta antara Qabil, Habil dan Adam dapat dijelaskan mekanismenya, apakah terjadi karena kompetisi atau konflik. Pada realitas iteraksi pertama antara malaikat dan tuhan, tampaknya sulit menghindarkan penilaian bahwa malaikat memandang kehadiran khalifah yang digambarkan tuhan kepadanya sebagai pesaing dalam komunitas surgawi. Apa yang terjadi dalam diri iblis, berupa tidak patuh untuk bersujud kepada Adam menandakan kompetesi antar kelompok makhluk surgawi. Demikian pula konflik yang terjadi antara Qabil dan Habil dalam memperebutkan pasangannya. Hal ini menandakan sebagaimana dinyatakan oleh Lauer- bahwa di sepanjang sejarah yang tercatat, manusia telah meneliti sifat realitas dan menemukan konflik di situ. Perhatian manusia terhadap konflik, telah tercermin dalam literatur keagamaan kuno, termasuk di dalamnya dalam pandangan Islam (seperti kasus di atas).
            Dalam kontek pendidikan anak, model interaksi pendidikan merupakan salah satu problem penting yang perlu diselesaikan di samping problem metodologi, epistemologi dan problem-problem lainnya. Pentingnya segera membangun model interaksi pendidikan anak berdasar al-Qur’an dimaksudkan untuk membenahi pendidikan anak yang telah sedemikian rupa dihegemoni oleh imperialisasi teori pendidikan Barat. Demikian pula berarti menghindari kultus pendidikan Barat dengan mempertegas jati diri pendidikan al-Qur’an. Meskipun demikian, juga harus dikatakan  bahwa tidaklah pada tempatnya mendikotomikan pendidikan Barat dengan Islam, karena ada dimensi konseptual pendikan yang berlaku secara universal.  Hanya secara faktual menurut pandangan Mujammil Qamar apa yang di klaim sebagai pendidikan Islam ternyata dalam rinciannya adalah pendidikan Barat yang diperkuat dengan ayat al-Qur’an dan Hadist. Hal ini dapat dijumpai pada struktur keilmuan, kurikulum, metode pendidikan/ pengajaran, evaluasi, filsafat pendidikan, ilmu pendidikan dan lain-lain. Teori yang dipakai acuan pada disiplin ilmu tersebut adalah produk dari ilmuwan Barat yang tidak berangkat dari wahyu.
 Di dalam interaksi pendidikan, hubungan timbal balik antara guru (pengajar) dan anak (murid) harus menunjukkan adanya hubungan edukatif (mendidik), di mana interaksi itu harus diarahkan pada suatu tujuan tertentu yang bersifat mendidik, yaitu adanya perubahan tingkah laku anak didik ke arah kedewasaan. Dalam hal ini, menurut Soetomo hubungan antara anak dan dengan orang tua dapat dikatakan mempunyai hubungan (interaksi) edukatif apabila salah satu fihak (orang tuanya) dalam hal itu mempunyai tujuan tertentu. Misalnya orang tua melarang anak tidak lagi makan sambil berjalan karena dianggap kurang baik. Sebaliknya, hubungan orang tua dengan anak dapat juga dikatakan interaksi sosial biasa, jika dalam interaksi itu tidak ada tujuan yang jelas, semisal hanya   gurauan.

Pendidikan Anak dalam Perspektif Islam

            Beberapa bulan yang lalu muncul wacana tentang amandemen Undang-undang Perkawinan No. 1 Tahun 1974 sebagai sebuah upaya perlindungan terhadap hak perempuan dan anak. Munculnya wacana ini dipicu oleh adanya realitas bahwa UU tersebut belum bisa mengakomodir pelbagai kepentingan dan hak perempuan dan anak yang selama ini lingkupnya masih terbatas. Selain memunculkan eksploitasi terhadap perempuan, UU yang tidak responsif terhadap kepentingan perempuan dan anak ini juga memunculkan fenomena kekerasan terhadap anak, baik di lingkungan keluarga maupun di lingkungan sosial yang lebih luas, seperti banyaknya anak-anak di bawah umur yang dieksploitasi di lingkungan kerja.
            Bagaimana mendidik anak dan menciptakan lingkungan yang kondusif dalam upaya pengembangan pribadi dan karakter anak, sebenarnya sudah dijelaskan secara komprehensif dalam Islam. Dalam Islam, hak-hak anak dan upaya perlindungan terhadap anak benar-benar dijaga dan dihormati. Semuanya berpangkal pada satu orientasi untuk menyiapkan generasi berkualitas dari segi moral, intelektual, dan spiritual. Buku Menjadi Orangtua Bijak, Solusi Kreatif Menangani Pelbagai Masalah Pada Anak karya Abdul Mustaqim mencoba menawarkan konsep pendidikan anak dalam perspektif Islam. Penulis buku ini mengharapkan akan muncul orangtua kreatif dan bijak dalam keluarga, sehingga pendidikan dan hak anak akan terjaga dan terealisasi dengan baik. Karena dari keluargalah pembentukan peradaban sebenarnya dimulai.

            Pendidikan Anak: Perspektif al-Qur’an dan al-Sunnah
Secara tegas al-Qur’an menyatakan, bahwa keturunan merupakan bagian dari kelanjutan misi kekhalifahan di muka bumi Artinya, kelangsungan peradaban bumi ini akan tergantung pada keturunan yang menjadi pewaris generasi sebelumnya. Jika mereka memiliki kualitas yang baik, tentu kehidupan di muka bumi ini akan berlanjut secara simultan. Sebaliknya jika diserahkan kepada generasi yang tidak bertanggungjawab, maka muka bumi ini akan diwarnai keangkaramurkaan dan kehancuran. Di sainilah urgensi pendidikan anak (tarbiyyah al-aulâd) dalam Islam. Dengan pendidikan yang baik dan bekesinambungan, anak-anak sebagai generasi penerus dan pewaris kehidupan di muka bumi ini akan menjadi manusia yang baik dan berorientasi kepada kemaslahatan.
            Berkaitan dengan pendidikan anak (tarbiyyah al-aulâd), anak memiliki dua sisi yang saling berlawanan. Satu sisi anak adalah amanah Allah yang dititipkan kepada orangtua. Di sisi lain anak merupakan fitnah bagi kehidupan orangtua secara khusus dan masyarakat serta lingkungan secara umum. Karena anak merupakan amanah Allah yang akan ditanyakan pertanggungjawabannya, maka menjadi kewajiban orangtua untuk mendidiknya dengan baik agar menjadi generasi yang berkualitas. Jika amanah ini disia-siakan, tentulah kehancuran peradaban akan segera terjadi. Kalau sudah seperti ini, fungsi anak sebagai amanah yang akan melanjutkan kelangsungan peradaban berubah menjadi fitnah.
            Lantas bagaimana bentuk pendidikan yang baik untuk anak agar ia menjadi generasi penerus yang siap memakmurkan bumi dan melanjutkan peradaban? Dalam hal ini, al-Qur’an dan al-Hadits banyak menawarkan konsep.
1.      Islam, melalui al-Qur’an dan al-Hadts menawarkan metode pendidikan anak yang demokratis, penuh dengan sikap lembut dan kasih sayang, tanpa melupakan ketegasan dan kewibawaan. Hal ini seperti dicontohkan oleh Nabi Ibrahim as. ketika beliau diperintahkan menyembelih putranya, Ismail as. Dalam peristiwa ini, Nabi Ibrahim dengan sikap demokratisnya bermusyawarah dengan Ismail untuk meminta pendapatnya. Akhirnya, dengan jiwa besar, Ismail rela berkorban demi mematuhi perintah Allah swt. Tetapi, ketabahan dan kepatuhan dua hamba Allah ini diganti dengan balasan pahala yang sangat besar.
2.      Memulai dari memilih pasangan yang baik. Generasi berkualitas hanya berasal dari benih yang bagus dan terjaga. Sehingga memilih pasangan yang memiliki kualitas keimanan dan ketakwaan kepada Allah menjadi sangat penting. Karena warna pendidikan anak akan sangat bergantung pada komitmen agama kedua orangtuanya.
3.      Memperhatikan tahap-tahap pendidikan anak. Islam sangat jeli dalam mengkonsep pendidikan anak. Di antara tahap-tahap pendidikan anak itu antara lain: tahap pranatal (sebelum bayi lahir), tahap kelahiran bayi, tahap anak-anak, dan tahap remaja.
4.       Memperhatikan sifat pendidik, dalam hal ini orangtua. Karena proses pendidikan anak melibatkan tiga faktor utama: anak sebagai peserta didik, orang tua atau guru sebagai pendidik, dan lingkungan sebagai tempat pendidikan. Di antara sifat yang harus dimiliki orangtua dalam mendidik anak-anaknya adalah sabar, lemah lembut, penyayang, luwes, moderat, dan mengendalikan emosi.
            Empat konsep dasar inilah yang menjadi pilar utama pendidikan anak dalam Islam. Dengan memperhatikan keempat poin utama di atas, orang tua akan melahirkan generasi berkualitas dan bertanggungjawab yang akan meneruskan kelangsungan peradaban ini.

            Peran Orang Tua dalam Pendidikan Anak
            Baik buruknya peribadi dan perilaku anak sangat bergantung kepada orangtua. Hal ini seperti ditegaskan Rasulullah saw. dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh al-Bukhari: Setiap anak lahir dalam keadaan suci, orang tuanya-lah yang menjadikan dia Yahudi, Nasrani, maupun Majusi. Maka peranan orang tua dalam pendidikan anak menjadi sangat urgen. Karena hal ini bersangkutan dengan masa depan anak dan masa depan peradaban.
Dalam mendidik anak ada beberapa faktor yang perlu diperhatikan orang tua yaitu:
1.      Sikap kasih sayang.
            Sikap ini penting untuk diterapkan orangtua dalam mendidik anak, karena dengan sikap ini akan melahirkan suasana damai dalam upaya pembangunan mental anak. Tetapi orang tua harus membedakan sikap kasih sayang dengan sikap memanjakan. Terkadang orang tua menganggap bahwa menyayangi anak adalah dengan memanjakannya. Justru dengan memanjakan anak, akan melahirkan mental lembek dan sikap tidak mandiri pada anak.
2.      Sikap bijak.
            Selain ditentukan oleh faktor kasih sayang dalam keluarga, keberhasilan proses pendidikan anak juga sangat ditentukan oleh sikap bijak orangtua dalam mendidik anak. Hal ini pernah dicontohkan Rasulullah saw. ketika beliau mendidik generasi sahabat dengan sikap bijaksana yang tertuang dalam nilai-nilai keteladanan, keadilan, kejujuran, dan tanggungjawab. Sehingga melahirkan sahabat-sahabat yang mewarnai peradaban dengan kejayaan dan             kegemilangan.


3.      komunikasi efektif di tengah lingkungan keluarga.
            Komunikasi dalam keluarga, yang dibangun di atas landasan kasih sayang, menjadi penting dalam mendidik anak, karena ia merupakan sarana pewarisan nilai-nilai moral dari orangtua kepada anak. Terkadang orangtua tidak memiliki waktu dan sarana untuk melakukan komunikasi dengan anak karena kesibukan kerja. Padahal di sinilah pintu kegagalan dalam mendidik anak.
4.      menciptakan keluarga yang harmonis.
             Poin ini menjadi sangat urgen, karena dari lingkungan keluarga harmonislah anak yang bermental positif akan lahir. Sedangkan anak yang dibesarkan dalam keluarga yang tidak harmonis akan menderita gangguan perkembangan kepribadian.
            Keempat faktor utama ini merupakan tanggungjawab orangtua dalam upaya pengimplementasiannya. Sehingga peran utama orangtua dalam mewujudkan keempat faktor di atas dalam kehidupan rumah tangga merupakan pintu gerbang untuk mewujudkan pendidikan anak yang baik, sebagai titik awal menciptakan generasi berkualitas.

Kiat Praktis Mendidik Anak
            Setelah menjelaskan beberapa poin utama sebagai landasan moral dalam mendidik anak, penulis buku ini mencoba menawarkan beberapa langkah praktis dalam mendidik anak. Upaya yang dilakukan penulis buku ini bertumpu pada al-Qur’an dan al-Hadits sebagai landasan utama.
1)      mengembangkan perilaku moralitas pada anak.
             Hal ini didasarkan pada sabda Rasulullah saw., “Sesungguhnya aku (Muhammad) diutus untuk menyempurnakan akhlak”. Urgensi peran orangtua dalam mengembangkan moralitas pada anak terletak pada upaya menjaga kesucian fitrah anak. Karena anak dilahirkan dalam kondisi fitrah. Artinya nilai-nilai moral sudah ada pada anak sejak lahir. Orang tuanya-lah yang berperan menjaga dan mengembangkannya. Dalam upaya perannya ini, orangtua dituntunt untuk mampu menciptakan suasana kasih sayang dalam keluarga, menjadi teladan yang baik (Uswah Hasanah), dan menerapkan sikap disiplin serta empati.
2)      memahami bakat dan mengembangkan kreativitas anak.
            Hal ini dicontohkan Rasulullah saw. dengan memerintahkan kepada orangtua agar sejak kecil, anak dilatih dan diajarkan memanah, menjahit, berenang, dan sebagainya. Selain itu, orangtua juga diperintahkan untuk mengembangkan kreativitas anak. Karena dengan sikap kreatif ini, kecenderungan transfer pengetahuan (transfer of knowledge) akan bisa dikikis. Sehingga akan muncul inovasi-inovasi dari anak sebagai generasi penerus.
3)      mengajarkan sikap kemandirian.
            Hal ini menjadi penting dalam upaya pendidikan anak yang baik, karena menurut ahli hikmah jika anak dididik dalam kemanjaan ia akan menjadi manusia yang mementingkan diri sendiri (egois). Sikap mandiri bisa dipupuk dengan cara tidak selalu memberikan apa yang diinginkan anak. Karena Islam melarang orangtua untuk memberikan kasih sayang yang berlebihan kepada anak.
4)      mengajarkan kedisiplinan.
            Sikap ini menjadi sangat penting, karena akan membentuk kematangan mental dan keteguhan jiwa. Dengan kedua sikap ini, anak akan dengan tekun dan sabar dalam mencapai cita-cita masa depannya.
            Selain beberapa langkah praktis dalam mendidik anak seperti disebutkan di atas, Abdul Mustaqim juga menawarkan solusi kreatif bagi orangtua dalam menangani anak bermasalah. Di antara beberapa permasalahan pada anak yang harus menjadi perhatian orangtua adalah: kecenderungan anak untuk bersikap nakal, malas, suka berbohong, rasa takut, malas belajar, suka jajan dan boros, serta anak yang sulit bergaul. Semua masalah tersebut bisa diatasi orangtua dengan bertumpu pada konsep dasar dalam pendidikan anak, yaitu kasih sayang, bijaksana, komunikatif, dan upaya pembentukan keluarga harmonis.
            Upaya-upaya pendidikan anak seperti dipaparkan di atas merupakan upaya lahiriah dalam menghasilkan generasi berkualitas. Abdul Mustaqim juga menawarkan upaya batiniah dalam pendidikan anak. Menurutnya, pendidikan anak tidak cukup ditempuh dengan upaya lahiriah saja. Tetapi juga harus dibarengi dengan upaya batiniah berupa berdoa kepada Allah agar diberi kekuatan dan kesabaran dalam mendidik anak. Di sinilah letak keistimewaan buku ini. Sehingga buku ini layak, bahkan wajib diapresiasi oleh orangtua yang mendambakan anak yang berkualitas, juga perlu dijadikan pegangan oleh para pendidik secara khusus dan masyarakat secara umum, dalam rangka mengawal moralitas demi berlangsungnya peradaban di muka bumi ini.

0 comments: